VALENTINE’S DAY : Pintu Kerusakan Aqidah Islamiyah
Segala puji hanya teruntuk Allah, Rabb alam semesta atas rahmat dan
kasih-Nya. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada nabi kita, Muhammad
SAW, kapada keluarga dan sahabatnya. Semoga kita menjadi umat yang mendapatkan
syafaatnya kelah.
Rasulullah telah menginformasikan bahwa beberapa kelompok umatnya
kelak akan meniru gaya hidup dan tradisi para musuh Allah. Hal ini sebagai
disinyalir dalam hadist Abu Sa’id al Khudri bahwa Nabi Saw bersabda, “Sungguh,
kalian pasti akan meniru tradisi orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan seandainya mereka melewati lubang dhabb
(sejenis biawak), kalian pasti nmengikutinya.’’ Mereka bertanya,” Apakah
mereka Yahudi dan Nasrani?”. “Lantas, siapa lagi?” Jawab Nabi.
Pada akhir zaman ini, sabda Nabi diatas telah terbukti. Di
tengah-tengah pesatnya arus globalisasi dan majunya peradaban manusia, banyak
budaya dan gaya hidup negeri-negeri kafir menyebar ke negeri muslim melalui
media audio-visual, jaringan satelit, dan internet. Budaya dan perilaku
jahiliyah kian menggerogoti iman umat muslim, pemuda muslim tak luput dari
perilaku tersebut. Salah satu contoh budaya tersebut adalah merayakan hari
Valentine atau hari Kasih Sayang, yang kini digandrungi remaja muslim kita. Hal
ini patut menjadi perhatian bagi kita, bagaimana islam memandang tentang
Perayaan Valentine dan apa hukumnya.Sebab itu dalam tulisan ini akan mencoba
mengupas “Perayaan Valentine” dengan harapan kita mengetahui dengan jelas serta
tidak terperosok kedalam perbuatan yang merusak aqidah.
Sejarah
Perayaan Hari Valentine
Sebenarnya ada
banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun,
pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai
ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal
15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian
upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama,
dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada
hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda
mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi
pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan.
Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan
srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan
wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka
menjadi lebih subur.
Ketika agama
Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh
agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa
Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau
Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I
(The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan
lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi
Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk
menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World
Book Encyclopedia 1998).
Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine
The
Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama
Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai
yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa
“St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui
ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut
versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St.
Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah
tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu
menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi
kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan
lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar
lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan
diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung
pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).
Versi
lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur
sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia
menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya
yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)
Dari
penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
1.
Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno
yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
2.
Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari
perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius
I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah
peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St.
Valentine.
3.
Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh
nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
4.
Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan
valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
Sungguh
ironis memang kondisi remaja saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui
kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan
boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah
ritual paganisme.
Tidak Ada
Valentine dalam Islam
Sering
kali muncul pertanyaan, kenapa umat Islam tidak boleh merayakan hari
valentine?. Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat berbagai sudut
pandang antara lain :
Pertama,
hari-hari besar dalam islam telah ditentukan dan ditetapkan, sehingga tidak
boleh ditambah atau dikurangi. Semua itu semua itu sudah diterima apa adanya
dan telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita.
Bukti yang
jelas terang dari Al Qur’an dan Sunnah – dan ini adalah yang disepakati oleh
konsensus ( Ijma’) dari ummah generasi awal muslim – menunjukkan bahwa ada
hanya dua macam Ied (hari Raya) dalam Islam : ‘ Ied Al-Fitr (setelah puasa
Ramadhan) dan ‘ Ied Al-Adha (setelah hari ‘ Arafah untuk berziarah).
Maka
seluruh Ied yang lainnya – apakah itu adalah buatan seseorang, kelompok,
peristiwa atau even lain – yang diperkenalkan sebagai hari Raya / ‘Ied,
tidaklah diperkenankan bagi muslimin untuk mengambil bagian didalamnya,
termasuk mengadakan acara yang menunjukkan sukarianya pada even tersebut, atau
membantu didalamnya – apapun bentuknya – sebab hal ini telah melampaui batas-batas
syari’ah Allah:
وَتِلْكَ حُدُودُاللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ
فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
Itulah
hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka
sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. [ Surah
At-Thalaq ayat 1]
Jika
kita menambah-nambah Ied yang telah ditetapkan, sementara faktanya bahwa hari
raya ini merupakan hari raya orang kafir, maka yang demikian termasuk berdosa.
Disebabkan perayaan Ied tersebut meniru-niru (tasyabbuh) dengan perilaku orang-orang
kafir dan merupakan jenis Muwaalaat (Loyalitas) kepada mereka. Dan Allah telah
melarang untuk meniru-niru perilaku orang kafir tersebut dan termasuk memiliki
kecintaan, kesetiaan kepada mereka, yang termaktub dalam kitab Dzat yang Maha
Perkasa (Al Qur’an). Ini juga ketetapan dari Nabi (Shalallaahu ` Alaihi wa
sallam) bahwa beliau bersabda : “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia
termasuk dari kaum tersebut”.
Dampak Perayaan Valentine
Sejatinya
perayaan valentine telah menyebabkan berbagai kerusakan aqidah umat
kita.Keruskan tersebut antara lain :
a. Kerusakan Pertama:
Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru
Orang Kafir
Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca:
tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan
dalam beberapa sabda
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca:
ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab
beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al
‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang
Yahudi
dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR.
Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar
menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk
menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)
b. Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri
Orang Beriman
Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka
adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang
musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain
semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan
zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)
Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai
makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini
tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya
menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada
mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak
menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin
Anas.
Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri
perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu
hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan
yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan
Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut
bukanlah hari raya umat Islam.
c. Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan
Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti
Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan
keutamaan berikut ini. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang
bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat,
wahai Rasulullah?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau
persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah
mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa
dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan
bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan, “Kami tidaklah
pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama
dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau
begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka,
walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang
tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja
melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan
pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau
begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang
muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah
bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?
Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang
kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum
Valentine!
d. Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam
Kesyirikan dan Maksiat
“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod
dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber) Oleh karena itu
disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine
(Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang
Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan
makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.
Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah
perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu,
mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang
kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama
(baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim
rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau
rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar
kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal
atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan
ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat
pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah
hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan
semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari
kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan
selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan
selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini
lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci
oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum
minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat
lainnya.”
e. Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat
Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau
di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat,
kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka
di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang
paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan
praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa
melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng
tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di
kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan
rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik. Padahal mendekati zina saja
haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,“Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras
daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika
kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina,
jelas-jelas lebih terlarang.
f. Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan
Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado
dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu.
Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain
yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan
agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih
senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan
ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh
seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine.
Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah, “Dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya
adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas
mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan
yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Demikianlah
bermacam kerusakan yang timbul dari budaya paganism perayaan valentine
day. Semoga dengan adanya tulisan ini memberikan sedikit perlindungan pada
aqidah pemuda muslim kita, yang mulai dirusak dengan budaya paganisme yang
berbalut kasih sayang bernuansa kesyirikan, perzinaan, pemborosan, dan
sebagainya. Besar harapan jiwa-jiwa muda yang telah terbelenggu dengan fanatisme
akan perayaan valentine segera kembali pada fitrahnya ( Islam hakiki).
Wallohu’alam
bishowab
Sumber rujukan:
Al Qur’an dan Hadist
Abid, Hamid Abul al-Maslamani.
2009. Victims of Love : Nasihat Islam Bagi Pendamba Cinta,Pelajaran
Berharga dari Para Korban Cinta. Jakarta : PT Niaga Swadaya.
“Hanya
orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan
menerima kebenaran”.