Jumat, 10 April 2015

Pendidikan Karakter: Konsep Revolusi Mental ala Jokowi



Pendidikan Karakter: Konsep Revolusi Mental ala Jokowi
Oleh : Rio Estetika
Pendidikan sajatinya merupakan usaha sadar memberikan pengajaran dan pembentukan kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan harapan anak akan mencapai pendewasaan diri sehingga dapat menjalani hidup dan mampu mengatasi masalah yang ada. Dunia pendidikan mejadi perhatian serius diantara para pakar, ilmuwan, serta pendidik sendiri. Munculnya banyak fenomena-fenomena degradasi moral, menjadikan pendidikan menuai banyak sorotan publik. Kita tengok keadaan negeri tercinta ini (baca: Indonesia) memiliki berbagai permasalan krusial yang menyangkut mutu pendidikan negeri ini. Kualitas manusia cetakan pendidikan Indonesia masih tertinggal dengan negara lain. Ditambah munculnya sikap mental generasi bangsa ini yang jauh dari kebaikan. Misal, kasus korupsi yang menjerat pejabat di negeri ini seolah menjadi pemandangan lumrah.
Pernyataan diatas hanyalah sekelumit permasalahan mental generasi bangsa ini. Berbicara tentang mental, presiden Jokowi (Joko Widodo) mengusung konsep “revolusi mental” dalam kampanyenya pada pilpres. Konsep yang diusung presiden ke- 7 ini tentunya banyak menuai segudang pertanyaan terutama bagi kalangan akademisi. Kemunculan ide ini berlandaskan pada kondisi moral bangsa Indonesia yang kian hari dirasa jauh dari nilai-nilai luhur bangsa ini. Konsep revolusi mental ini kemudian dinisbatkan pada pendidikan karakter.
Menurut Jokowi, siswa sekolah dasar (SD) sepatutnya mendapatkan materi pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, dan pendidikan etika sebesar 80 %, sedangkan ilmu pengetahuan cukup 20 %. "Saat ini anak-anak SD sudah dijejali dengan matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris, sehingga pendidikan etika, perilaku, dan moralitas, tidak disiapkan pada posisi dasar," kata Jokowi (REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA). Kemudian secara berjejang kata dia porsi ilmu pengetahuan di tingkatkan pada SMP menjadi 40 %, sedangkan pendidikan karakter dan budi pekerti menjadi 60 %. Pada tingkat SMA, pendidikan ilmu pengetahuan ditingkatkan lagi menjadi 80 % serta pendidikan karakter dan budi pekerti diturunkan menjadi 20 %.  Jadi, dapat kita asumsikan bahwa konsep revolusi mental ini adalah merombak pola pendidikan Indonesia dengan mengoptimalkan pendidikan agama dan budi pekerti sejak usia dini.
Pola pendidikan Indonesia tidak terlepas dari kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum pendidikan Indonesia sepanjang 10 tahun terakhir telah mengalami perubahan. Pada tahun ini kurikulum pendidikan nasional berganti menjadi Kurikulum 2013. Pendidikan karakter dalam kurikulum ini diintegrasikan pada seluruh  pembelajaran pada setiap bidang studi (Mulyasa, 2013; 7). Jika kita menganalisis pendidikan karakter yang dikonsep Jokowi melalui revolusi mental dengan mengedepankan studi budi pekerti pada usia SD dan pegetahuan terapan pada usia SMA. Maka, terdapat kontradiksi antara konsep pendidikan karate “revolusi mental” dengan kurikulum 2013 yang baru saja diuji cobakan. Dalam kurikulum 2013 menghendaki agar pendidikan budi pekerti (karakter) terintegrasi dalam setiap studi, sehingga secara bersamaan  membentuk perilak baik dan intelegensia mumpuni. Sebaliknya dalam konsep revolusi mental Jokowi membuat tahapan pola pendidikan, dimana pendidikan karakter ditekankan pada usia dini (SD) kemudian pendidikan sains dan ilmu terapan diberikan ketika usia dewasa awal (SMA).
Penulis menggaris bawahi bahwa konsep revolusi mental Jokowi belumlah memiliki formula yang jelas. Hal ini wajar, karena tataran konsep revolusi mental adalah masih dalam tataran ide. Lalu, bagaimanakah rumusan konkret revolusi mental ini? Apakah memiliki kaitan dengan perubahan pola pendidikan Indonesia? Dan apakah dampak terhadap kurikulum 2013 yang sedang berjalan? Pertanyaan tersebut mungkin belumlah dapat kita jawab, karena realitanya pola pendidikan Indonesia masih memberlakukan Kurikulum 2013 dan masih dalam tahapan uji coba. Karena itu perlu kita senantiasa menyoroti pemerintahan Jokowi terutama pengelolaan pendidikan nasional. Apakah ide revolusi mental melalui pendidikan dijalankan dengan kontruksi yang rasional ataukah ide ini hanyalah sebuah janji politik yang tak pernah ada gairah untuk menggarapnya.


Minggu, 02 Februari 2014

VALENTINE’S DAY : Pintu Kerusakan Aqidah Islamiyah


VALENTINE’S DAY : Pintu Kerusakan Aqidah Islamiyah

       Segala puji hanya teruntuk Allah, Rabb alam semesta atas rahmat dan kasih-Nya. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada nabi kita, Muhammad SAW, kapada keluarga dan sahabatnya. Semoga kita menjadi umat yang mendapatkan syafaatnya kelah.
      Rasulullah telah menginformasikan bahwa beberapa kelompok umatnya kelak akan meniru gaya hidup dan tradisi para musuh Allah. Hal ini sebagai disinyalir dalam hadist Abu Sa’id al Khudri bahwa Nabi Saw bersabda, “Sungguh, kalian pasti akan meniru tradisi orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan seandainya mereka melewati lubang dhabb (sejenis biawak), kalian pasti nmengikutinya.’’ Mereka bertanya,” Apakah mereka Yahudi dan Nasrani?”. “Lantas, siapa lagi?” Jawab Nabi. 
       Pada akhir zaman ini, sabda Nabi diatas telah terbukti. Di tengah-tengah pesatnya arus globalisasi dan majunya peradaban manusia, banyak budaya dan gaya hidup negeri-negeri kafir menyebar ke negeri muslim melalui media audio-visual, jaringan satelit, dan internet. Budaya dan perilaku jahiliyah kian menggerogoti iman umat muslim, pemuda muslim tak luput dari perilaku tersebut. Salah satu contoh budaya tersebut adalah merayakan hari Valentine atau hari Kasih Sayang, yang kini digandrungi remaja muslim kita. Hal ini patut menjadi perhatian bagi kita, bagaimana islam memandang tentang Perayaan Valentine dan apa hukumnya.Sebab itu dalam tulisan ini akan mencoba mengupas “Perayaan Valentine” dengan harapan kita mengetahui dengan jelas serta tidak terperosok kedalam perbuatan yang merusak aqidah.

Sejarah Perayaan Hari Valentine
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).


Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).
Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)



Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
1.      Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
2.      Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
3.      Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
4.      Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
Sungguh ironis memang kondisi remaja saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme.
Tidak Ada Valentine dalam Islam
Sering kali muncul pertanyaan, kenapa umat Islam tidak boleh merayakan hari valentine?. Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat berbagai sudut pandang antara lain :
Pertama, hari-hari besar dalam islam telah ditentukan dan ditetapkan, sehingga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Semua itu semua itu sudah diterima apa adanya dan telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita.

Bukti yang jelas terang dari Al Qur’an dan Sunnah – dan ini adalah yang disepakati oleh konsensus ( Ijma’) dari ummah generasi awal muslim – menunjukkan bahwa ada hanya dua macam Ied (hari Raya) dalam Islam : ‘ Ied Al-Fitr (setelah puasa Ramadhan) dan ‘ Ied Al-Adha (setelah hari ‘ Arafah untuk berziarah).
 Maka seluruh Ied yang lainnya – apakah itu adalah buatan seseorang, kelompok, peristiwa atau even lain – yang diperkenalkan sebagai hari Raya / ‘Ied, tidaklah diperkenankan bagi muslimin untuk mengambil bagian didalamnya, termasuk mengadakan acara yang menunjukkan sukarianya pada even tersebut, atau membantu didalamnya – apapun bentuknya – sebab hal ini telah melampaui batas-batas syari’ah Allah:
 وَتِلْكَ حُدُودُاللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. [ Surah At-Thalaq ayat 1]
 Jika kita menambah-nambah Ied yang telah ditetapkan, sementara faktanya bahwa hari raya ini merupakan hari raya orang kafir, maka yang demikian termasuk berdosa. Disebabkan perayaan Ied tersebut meniru-niru (tasyabbuh) dengan perilaku orang-orang kafir dan merupakan jenis Muwaalaat (Loyalitas) kepada mereka. Dan Allah telah melarang untuk meniru-niru perilaku orang kafir tersebut dan termasuk memiliki kecintaan, kesetiaan kepada mereka, yang termaktub dalam kitab Dzat yang Maha Perkasa (Al Qur’an). Ini juga ketetapan dari Nabi (Shalallaahu ` Alaihi wa sallam) bahwa beliau bersabda : “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut”.

Dampak Perayaan Valentine
Sejatinya perayaan valentine telah menyebabkan berbagai kerusakan aqidah umat kita.Keruskan tersebut antara lain :
a.       Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir
Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)
b.      Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman
Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)
Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.
Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.
c.       Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti
Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?
Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

d.      Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat
“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber) Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.
Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”
e.       Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik. Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)


Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.
f.       Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan
Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine.
Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)



Demikianlah bermacam kerusakan yang timbul dari budaya paganism perayaan valentine day. Semoga dengan adanya tulisan ini memberikan sedikit perlindungan pada aqidah pemuda muslim kita, yang mulai dirusak dengan budaya paganisme yang berbalut kasih sayang bernuansa kesyirikan, perzinaan, pemborosan, dan sebagainya. Besar harapan jiwa-jiwa muda yang telah terbelenggu dengan fanatisme akan perayaan valentine segera kembali pada fitrahnya ( Islam hakiki).
Wallohu’alam bishowab
Sumber rujukan:
Al Qur’an dan Hadist 
Abid, Hamid Abul al-Maslamani. 2009. Victims of Love : Nasihat Islam Bagi Pendamba Cinta,Pelajaran Berharga dari Para Korban Cinta. Jakarta : PT Niaga Swadaya.

“Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran”.


Minggu, 26 Januari 2014



Kapal Nabi Nuh Berbentuk Bulat?
Berdasarkan relief kuno berbentuk tablet berusia 4.000 tahun.
Irving Finkel, kurator British Museum yang dan tablet berusia 4.000 tahun
Irving Finkel, kurator British Museum yang dan tablet berusia 4.000 tahun (dailymail.co.uk)

VIVAnews - Spekukasi mengenai bahtera Nabi Nuh muncul kembali. Teori baru menunjukkan, bahtera Nuh kemungkinan besar berbentuk bulat.

Hal ini berdasarkan relief kuno yang terdapat pada tanah liat berbentuk tablet berusia hampir 4.000 tahun di Mesopotamia.

Dilansir Daily Mail, Senin 27 Januari 2014, kurator British Museum Irving Finkel berhasil memecahkan relief dan skrip yang terdapat pada tablet tanah liat kuno sebesar telepon seluler itu.

Tanah liat itu menceritakan petunjuk rinci dan lengkap untuk membangun kapal raksaa yang dikenal dengan Coracle. Pada benda itu juga disertai instruksi bagaimana memasukkan pasangan hewan ke dalam bahtera.

Tablet kuno tanah liat itu kini dipamerkan di British Museum. Para insinyur disebutkan akan segera mengikuti intruksi dan petunjuk dalam tablet untuk membuat kapal, guna menguji apakah kapal nantinya dapat berlayar.

Sementara Finkel mendapatkan benda kuno itu beberapa tahun lalu dari seseorang yang membawa tablet tanah liat itu dalam keadaan rusak. Kepada Finkel, orang itu mengaku mendapatkan tablet dari ayahnya yang membawanya dari Timur Tengah setelah Perang Dunia II. 

"Ini benar-benar mengagetkan. Temuan bahwa perahu Nuh merupakan berbentuk bulat, ini adalah kejutan nyata," kata Finkel.

Finkel meyakini kapal bulat adalah masuk akal. Sebab, pada masa Irak kuno, Cocacle secara luas digunakan sebagai armada sungai dan secara sempurna telah dirancang untuk memancing saat banjir melanda.

"Ini sempurna. Kapal ringan dan tak pernah tenggelam," tambah Finkel.
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2013/12/15/article-2524056-1A1F496300000578-586_634x418.jpg

6 Bus Kota London

Eliabeth Stone, ahli barang antik Mesopotamia kuno Stony Brook University, New York, menguatkan keyakinan Finkel. Menurut Stone, masuk akal orang jika Mesopotamia kuno menggambarkan kapal mitologi mereka dalam bentuk bulat.

Situs tablet itu juga mencatatkan perintah Tuhan kepada orang Mesopotamia untuk membangun bahtera raksasa yang ukurannya sepertiga lapangan sepakbola atau 220 kaki (67 meter), setara dengan enam bus London berjejer, dengan tinggi 20 kaki atau enam meter.

Tablet itu juga menunjukkan perintah Tuhan agar kapal dibuat dari tali alang-alang, rusuk kayu, dan dilapisi aspal.

"Saya yakin kisah banjir dan sebuah bahtera untuk menyelamatkan hidup merupakan temuan orang Babylonia," kata Finkel.