Jumat, 10 April 2015

Pendidikan Karakter: Konsep Revolusi Mental ala Jokowi



Pendidikan Karakter: Konsep Revolusi Mental ala Jokowi
Oleh : Rio Estetika
Pendidikan sajatinya merupakan usaha sadar memberikan pengajaran dan pembentukan kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan harapan anak akan mencapai pendewasaan diri sehingga dapat menjalani hidup dan mampu mengatasi masalah yang ada. Dunia pendidikan mejadi perhatian serius diantara para pakar, ilmuwan, serta pendidik sendiri. Munculnya banyak fenomena-fenomena degradasi moral, menjadikan pendidikan menuai banyak sorotan publik. Kita tengok keadaan negeri tercinta ini (baca: Indonesia) memiliki berbagai permasalan krusial yang menyangkut mutu pendidikan negeri ini. Kualitas manusia cetakan pendidikan Indonesia masih tertinggal dengan negara lain. Ditambah munculnya sikap mental generasi bangsa ini yang jauh dari kebaikan. Misal, kasus korupsi yang menjerat pejabat di negeri ini seolah menjadi pemandangan lumrah.
Pernyataan diatas hanyalah sekelumit permasalahan mental generasi bangsa ini. Berbicara tentang mental, presiden Jokowi (Joko Widodo) mengusung konsep “revolusi mental” dalam kampanyenya pada pilpres. Konsep yang diusung presiden ke- 7 ini tentunya banyak menuai segudang pertanyaan terutama bagi kalangan akademisi. Kemunculan ide ini berlandaskan pada kondisi moral bangsa Indonesia yang kian hari dirasa jauh dari nilai-nilai luhur bangsa ini. Konsep revolusi mental ini kemudian dinisbatkan pada pendidikan karakter.
Menurut Jokowi, siswa sekolah dasar (SD) sepatutnya mendapatkan materi pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, dan pendidikan etika sebesar 80 %, sedangkan ilmu pengetahuan cukup 20 %. "Saat ini anak-anak SD sudah dijejali dengan matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris, sehingga pendidikan etika, perilaku, dan moralitas, tidak disiapkan pada posisi dasar," kata Jokowi (REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA). Kemudian secara berjejang kata dia porsi ilmu pengetahuan di tingkatkan pada SMP menjadi 40 %, sedangkan pendidikan karakter dan budi pekerti menjadi 60 %. Pada tingkat SMA, pendidikan ilmu pengetahuan ditingkatkan lagi menjadi 80 % serta pendidikan karakter dan budi pekerti diturunkan menjadi 20 %.  Jadi, dapat kita asumsikan bahwa konsep revolusi mental ini adalah merombak pola pendidikan Indonesia dengan mengoptimalkan pendidikan agama dan budi pekerti sejak usia dini.
Pola pendidikan Indonesia tidak terlepas dari kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum pendidikan Indonesia sepanjang 10 tahun terakhir telah mengalami perubahan. Pada tahun ini kurikulum pendidikan nasional berganti menjadi Kurikulum 2013. Pendidikan karakter dalam kurikulum ini diintegrasikan pada seluruh  pembelajaran pada setiap bidang studi (Mulyasa, 2013; 7). Jika kita menganalisis pendidikan karakter yang dikonsep Jokowi melalui revolusi mental dengan mengedepankan studi budi pekerti pada usia SD dan pegetahuan terapan pada usia SMA. Maka, terdapat kontradiksi antara konsep pendidikan karate “revolusi mental” dengan kurikulum 2013 yang baru saja diuji cobakan. Dalam kurikulum 2013 menghendaki agar pendidikan budi pekerti (karakter) terintegrasi dalam setiap studi, sehingga secara bersamaan  membentuk perilak baik dan intelegensia mumpuni. Sebaliknya dalam konsep revolusi mental Jokowi membuat tahapan pola pendidikan, dimana pendidikan karakter ditekankan pada usia dini (SD) kemudian pendidikan sains dan ilmu terapan diberikan ketika usia dewasa awal (SMA).
Penulis menggaris bawahi bahwa konsep revolusi mental Jokowi belumlah memiliki formula yang jelas. Hal ini wajar, karena tataran konsep revolusi mental adalah masih dalam tataran ide. Lalu, bagaimanakah rumusan konkret revolusi mental ini? Apakah memiliki kaitan dengan perubahan pola pendidikan Indonesia? Dan apakah dampak terhadap kurikulum 2013 yang sedang berjalan? Pertanyaan tersebut mungkin belumlah dapat kita jawab, karena realitanya pola pendidikan Indonesia masih memberlakukan Kurikulum 2013 dan masih dalam tahapan uji coba. Karena itu perlu kita senantiasa menyoroti pemerintahan Jokowi terutama pengelolaan pendidikan nasional. Apakah ide revolusi mental melalui pendidikan dijalankan dengan kontruksi yang rasional ataukah ide ini hanyalah sebuah janji politik yang tak pernah ada gairah untuk menggarapnya.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar