MENGAJARKAN SIFAT ALLAH ITU ADA (WUJUD) PADA ANAK USIA 7-9 TAHUN
(Perspektif Teori Kognitif Jean Piaget)
Oleh : Rio Estetika
Permasalahan
dalam Pengajaran Sifat Allah Itu Ada ( Wujud) untuk Anak Usia 7-9 Tahun
Mengajar
tentang materi yang sifatnya abstrak, tidak nyata atau gaib kepada anak usia
7-9 tahun (sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah) seringkali kita mengalami
kesulitan. Kesulitan itu disebabkan anak usia tersebut pola pikirnya dalam masa
operasional konkret. Segala sesuatu cara memahaminya haruslah dengan benda
nyata (konkret) dan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
Sebagai calon
guru PAI ( Pendidikan Agama Islam) kita dituntut mampu menjelaskan materi
kepada siswa-siswi kita sejelas mungkin sehingga siswa kita dapat memahami apa
yang kita ajarkan dan mereka memperoleh gambaran yang konkret dan jelas. Kita
sering mengalami kesulitan ketika harus menjelaskan materi yang absrak, tidak
dapat diamati dengan panca indera, tetapi siswa harus memahami materi tersebut.
Misalnya kita akan mengajarkan materi sifat-sifat Allah antara lain Allah itu
ada (wujud).
Materi lain
misalnya tentang bangun ruang pada matematika kita dapat membuat alat peraga
yang menyerupai benda tersebut. Siswa ditunjukkan benda-benda atau alat peraga
yang berbentuk bangun ruang. Siswa akan mengamati, menyentuh, meraba, mengukur,
dan sebagainya sehingga konsep tentang bangun ruang dapat mereka pahami.
Bagaimana jika kita ingin mengajarkan tentang sifat-sifat Allah misalnya Allah
itu ada (wujud). Dapatkah kita membuat alat peraga kemudian kita tunjukkan
kepada siswa bahwa Allah itu ada?
Permasalahan
seperti ini tidak boleh menyebabkan guru PAI kebingungan, frutasi, atau
mengajar dengan teknik mengumumkan. “Anak-anak, Allah itu ada, tetapi tidak
dapat dilihat oleh panca indera”. Mungkin siswa kita akan bertanya kalau Allah
itu ada, “Di mana tempatnya Ustadz? Dimana rumahnya, bagaimana tinggi tubuhnya
dan sebagainya”. Biasanya guru akan menjawab Allah itu ada kita harus yakin dan
mengimani hal tersebut, tidak usah terlalu banyak mempermasalahkannya?
Jawaban
semacam itu secara edukatif akan mematikan kreativitas siswa. Siswa yang mulai
memiliki keberanian dan kreativitas akan segan dan malas untuk mengeksplor
suatu materi. Kalau hal ini dilakukan setiap proses pembelajaran, maka kita
sulit berharap bahwa siswa kita kelak menjadi anak yang kreatif, cerdas,
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan memiliki keberanian dalam memecahkan
masalah. Siswa kita akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif, cenderung menerima
apa adanya tanpa adanya sikap kritis dan eksploratif.
Perkembangan
Kognitif Anak Usia 7-9 Tahun
Piaget memandang perkembangan intelektual atau kemampuan kognitif
manusia terjadi dalam empat tahap,yaitu sensorimotor ( usia lahir – 2
tahun), preoperational ( usia 2- 7 tahun), concrete operational
(usia 7-11 tahun) dan formal operational ( usia 11 – 15 tahun). Masing –
masing tahapan memiliki cirri dan kemampuan yang berbeda dalam menerima
pengetahuan ( Nurhayati, 2011 : 34).
Anak usia 7-9 tahun dalam teori Piaget masuk
dalam tahapan concrete operational (Operasional Konkret). Ciri pokok
perkembangan pada tahap ini dalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan
yang jelas dan logis. Anak berpikir secara operasional dan pemikiran yang logis
menggantikan pemikiran yang intuitif tetapi hanya dalma situasi yang konkret;
keterampilan mengklasifikasikan ada tetapi masih kesulitan dalam persoalan
abstrak ( Santrock, 2009 : 55).
Implikasi
Teori Piaget terhadap Praktik Pendidikan
Memperhatikan uraian tentang
perkembangan intelektual anak usia 7-9 tahun serta berbagai masalah dalam
pengajaran tentang keberadaan Allah, maka sangat penting untuk merancang lingkungan, kurikulum,
materi, dan pengajaran yang sesuai dengan perkembangan berpikir anak-anak pada
tahapan operasional konkret ( Santrock, 2009 : 63).
Menurut Robert E. Slavin ( 2008:57-58) menyebutkan
implikas-implikasi pengajaran utama yang diamabil dari Piaget dapat terlihat
dalam hal berikut :
1.
Mefokuskan
pada proses berpikir anak, tidak sekedar produknya.
Tugas guru merancang dan menerapkan metode mengajar yang sesuia
dengan perkembangan anak dan member kesempatan pada anak untuk memperoleh
pengalaman yang sesuai demgan perkembangan kognitif saat itu.
2.
Adanya
pengakuan terhadap inisiatif dan keterlibatan aktif anak-anak dalam kegiatan
pembelajaran.
Dalam suatu ruang kelas Piaget, penyajian pengetahuan yang sudah
jadi tidak ditekankan, dan anak-anak didorong menemukan bagi diri sendiri
melalui interaksi spontan dengan lingkungan. Jadi, guru menyediakan jenis
kegiatan yang memungkinkan anak bertindak langsung dalam dunia fisik.
3.
Tidak
menekankan praktik-praktik yang mengarah untuk menjadikan anak-anak seperti
orang dewasa dalam pemikirannya.
Pemberian praktik yang mengarah pada kognisi orang dewas akan
mengakibatkan peneriamaan rumus-rumus orang dewas secara dangkal dari pada
pemahaman kognitif yang sebenarnya.
4.
Penerimaan
perbedaan masing-masing orang dalam kemajuan perkembangan.
Teori Piaget beranggapan bahwa semua anak mengalami urutan
perkembangan yang sama tetapi dengan kecepatan yang berbeda. Karena itu, guru
harus melakukan upaya khusus untuk merencanakan kegiatan-kegiatan di ruang
kelas untuk masing-masing orang dan kelompok-kelompok kecil anak-anak alih-alih
untuk seluruh kelompokm kelas tersebut.
Dalam mengajarkan keberadaan Allah (sifat wujud) pada anak usia 7-9
tahun memerlukan benda konkret ( alat peraga) untuk menjelaskan konsep
keberadaan Allah tersebut. Berikut adalah konsep pengajaran keberadaan Allah
pada anak usia7-9 tahun:
Pertama, guru
menjelaskan dalil atau ayat sebagai penjelaskan tentang keberadaan Allah.
Firman Allah dalam surat As-Sajdah:4 yang artinya : “ Allah menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada diantara keduanya dalam enam masa…”. Potongan ayat tersebut menegaskan
bahwa segala bentuk di dunia ini ada yang menciptakan yaitu Allah.
Kedua, guru
menjelaskan keberadaan Allah dengan analogi benda konkret. Penjelasan tersebut
dapat menggunakan “Simulasi Air Gula”. Lebih jelasnya simulasi percobaan
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Guru mengambil segelas air dan sesendok gula pasir.
2. Masukkan gula ke dalam air, lalu aduk sehingga gula pasir dalam
air larut.
3. Mengajak siswa-siswi kita untuk melihat proses yang terjadi pada
air dan gula pasir.
4. Kemudian guru membuat pertanyaan kepada siswa atas simulasi yang
telah diperagakan dengan beberapa pertanyaan antara lain :
a.
Apakah
gula pasir masih tetap ada di dalam air yang terdapat di dalam gelas tersebut?
b.
Bagaimana
siswa-siswi bisa yakin bahwa gula masih ada dalam gelas padahal secara fisik
sudah tidak terlihat lagi? ( Guru mengarahkan siswa bisa menjawab bahwa bukti
gula pasir masih ada di dalam gelas tersebut adalah dengan merasakan manisnya
air dalam gelas tersebut).
5.
Jika
anak sudah memberikan jawabnnya, guru menjelaskan dengan menganalogikan
simulasi tersebut dengan wujud atau keberadaan Allah. Misalnya: Allah itu
memang gaib atau tidak bisa dilihat wujudnya, namun kita bisa melihat dengan
cara merasakan keberadaan-Nya melalui segala ciptaan-Nya. Hal ini sama dengan
peristiwa larutnya gula dalam air. Meskipun gula itu sudah tidak bisa dilihat
lagi, keberadaan gula tetap bias dirasakan dengan mencicipinya sehingga terasa
manis air tersebut.
6.
Setelah
siswa-siswi mendengarkan penjelasan guru mengajak untuk memikirkan dan
menyebutkan benda-benda yang tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan, misalnya
angin, udara, arus listrik, dan sebagainya. Dengan tujuan mengetahui pemahaman
siswa terhadap analogi tersebut.
Dengan
media percobaan diatas telah melatih perkembangan beberapa kecerdasn anak
diantaranya kecerdasan logis dan spasial
berkembang ketika siswa melakukan pengamatan terhadap gula yang dilarutkan
dalam air dan ketika mencari contoh benda yang tidak dapat dilihat, tetapi bisa
dirasakan. Dengan peningkatan kecerdasan logis dan spasial tersebut diaharapkan
siswa memiliki keyakinan yang kuat terhadap keberadaan Allah (sifat wujud).
Daftar
Pustaka
Nurhayati,
Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Santrock,
Jhon W. 2009. Educational Psychology. Jakarta : Salemba Humanika.
Slavin,
Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan ; Teori dan Praktik.Jakarta : PT
Indeks.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar