Selasa, 08 Oktober 2013


MENGAJARKAN SIFAT ALLAH ITU ADA (WUJUD)  PADA ANAK USIA 7-9 TAHUN
(Perspektif Teori Kognitif Jean Piaget)
Oleh : Rio Estetika 

Permasalahan dalam Pengajaran Sifat Allah Itu Ada ( Wujud) untuk Anak Usia 7-9 Tahun
Mengajar tentang materi yang sifatnya abstrak, tidak nyata atau gaib kepada anak usia 7-9 tahun (sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah) seringkali kita mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan anak usia tersebut pola pikirnya dalam masa operasional konkret. Segala sesuatu cara memahaminya haruslah dengan benda nyata (konkret) dan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
Sebagai calon guru PAI ( Pendidikan Agama Islam) kita dituntut mampu menjelaskan materi kepada siswa-siswi kita sejelas mungkin sehingga siswa kita dapat memahami apa yang kita ajarkan dan mereka memperoleh gambaran yang konkret dan jelas. Kita sering mengalami kesulitan ketika harus menjelaskan materi yang absrak, tidak dapat diamati dengan panca indera, tetapi siswa harus memahami materi tersebut. Misalnya kita akan mengajarkan materi sifat-sifat Allah antara lain Allah itu ada (wujud).
Materi lain misalnya tentang bangun ruang pada matematika kita dapat membuat alat peraga yang menyerupai benda tersebut. Siswa ditunjukkan benda-benda atau alat peraga yang berbentuk bangun ruang. Siswa akan mengamati, menyentuh, meraba, mengukur, dan sebagainya sehingga konsep tentang bangun ruang dapat mereka pahami. Bagaimana jika kita ingin mengajarkan tentang sifat-sifat Allah misalnya Allah itu ada (wujud). Dapatkah kita membuat alat peraga kemudian kita tunjukkan kepada siswa bahwa Allah itu ada?
Permasalahan seperti ini tidak boleh menyebabkan guru PAI kebingungan, frutasi, atau mengajar dengan teknik mengumumkan. “Anak-anak, Allah itu ada, tetapi tidak dapat dilihat oleh panca indera”. Mungkin siswa kita akan bertanya kalau Allah itu ada, “Di mana tempatnya Ustadz? Dimana rumahnya, bagaimana tinggi tubuhnya dan sebagainya”. Biasanya guru akan menjawab Allah itu ada kita harus yakin dan mengimani hal tersebut, tidak usah terlalu banyak mempermasalahkannya?
Jawaban semacam itu secara edukatif akan mematikan kreativitas siswa. Siswa yang mulai memiliki keberanian dan kreativitas akan segan dan malas untuk mengeksplor suatu materi. Kalau hal ini dilakukan setiap proses pembelajaran, maka kita sulit berharap bahwa siswa kita kelak menjadi anak yang kreatif, cerdas, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan memiliki keberanian dalam memecahkan masalah. Siswa kita akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif, cenderung menerima apa adanya tanpa adanya sikap kritis dan eksploratif.
Perkembangan Kognitif Anak Usia 7-9 Tahun
Piaget memandang perkembangan intelektual atau kemampuan kognitif manusia terjadi dalam empat tahap,yaitu sensorimotor ( usia lahir – 2 tahun), preoperational ( usia 2- 7 tahun), concrete operational (usia 7-11 tahun) dan formal operational ( usia 11 – 15 tahun). Masing – masing tahapan memiliki cirri dan kemampuan yang berbeda dalam menerima pengetahuan ( Nurhayati,   2011 : 34).
Anak usia 7-9 tahun dalam teori Piaget masuk dalam tahapan concrete operational (Operasional Konkret). Ciri pokok perkembangan pada tahap ini dalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak berpikir secara operasional dan pemikiran yang logis menggantikan pemikiran yang intuitif tetapi hanya dalma situasi yang konkret; keterampilan mengklasifikasikan ada tetapi masih kesulitan dalam persoalan abstrak ( Santrock, 2009 : 55).
Implikasi Teori Piaget terhadap Praktik Pendidikan
 Memperhatikan uraian tentang perkembangan intelektual anak usia 7-9 tahun serta berbagai masalah dalam pengajaran tentang keberadaan Allah, maka sangat penting  untuk merancang lingkungan, kurikulum, materi, dan pengajaran yang sesuai dengan perkembangan berpikir anak-anak pada tahapan operasional konkret ( Santrock, 2009 : 63).
Menurut Robert E. Slavin ( 2008:57-58) menyebutkan implikas-implikasi pengajaran utama yang diamabil dari Piaget dapat terlihat dalam hal berikut  :
1.      Mefokuskan pada proses berpikir anak, tidak sekedar produknya.
Tugas guru merancang dan menerapkan metode mengajar yang sesuia dengan perkembangan anak dan member kesempatan pada anak untuk memperoleh pengalaman yang sesuai demgan perkembangan kognitif saat itu.
2.      Adanya pengakuan terhadap inisiatif dan keterlibatan aktif anak-anak dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam suatu ruang kelas Piaget, penyajian pengetahuan yang sudah jadi tidak ditekankan, dan anak-anak didorong menemukan bagi diri sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan. Jadi, guru menyediakan jenis kegiatan yang memungkinkan anak bertindak langsung dalam dunia fisik.
3.      Tidak menekankan praktik-praktik yang mengarah untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
Pemberian praktik yang mengarah pada kognisi orang dewas akan mengakibatkan peneriamaan rumus-rumus orang dewas secara dangkal dari pada pemahaman kognitif yang sebenarnya.
4.      Penerimaan perbedaan masing-masing orang dalam kemajuan perkembangan.
Teori Piaget beranggapan bahwa semua anak mengalami urutan perkembangan yang sama tetapi dengan kecepatan yang berbeda. Karena itu, guru harus melakukan upaya khusus untuk merencanakan kegiatan-kegiatan di ruang kelas untuk masing-masing orang dan kelompok-kelompok kecil anak-anak alih-alih untuk seluruh kelompokm kelas tersebut.
Dalam mengajarkan keberadaan Allah (sifat wujud) pada anak usia 7-9 tahun memerlukan benda konkret ( alat peraga) untuk menjelaskan konsep keberadaan Allah tersebut. Berikut adalah konsep pengajaran keberadaan Allah pada anak usia7-9 tahun:
Pertama, guru menjelaskan dalil atau ayat sebagai penjelaskan tentang keberadaan Allah. Firman Allah dalam surat As-Sajdah:4 yang artinya :   Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa…”. Potongan ayat tersebut menegaskan bahwa segala bentuk di dunia ini ada yang menciptakan yaitu Allah.
Kedua, guru menjelaskan keberadaan Allah dengan analogi benda konkret. Penjelasan tersebut dapat menggunakan “Simulasi Air Gula”. Lebih jelasnya simulasi percobaan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Guru mengambil segelas air dan sesendok gula pasir.
2.      Masukkan gula ke dalam air, lalu aduk sehingga gula pasir dalam air larut.
3.      Mengajak siswa-siswi kita untuk melihat proses yang terjadi pada air dan gula pasir.
4.      Kemudian guru membuat pertanyaan kepada siswa atas simulasi yang telah diperagakan dengan beberapa pertanyaan antara lain :
a.       Apakah gula pasir masih tetap ada di dalam air yang terdapat di dalam gelas tersebut?
b.      Bagaimana siswa-siswi bisa yakin bahwa gula masih ada dalam gelas padahal secara fisik sudah tidak terlihat lagi? ( Guru mengarahkan siswa bisa menjawab bahwa bukti gula pasir masih ada di dalam gelas tersebut adalah dengan merasakan manisnya air dalam gelas tersebut).
5.      Jika anak sudah memberikan jawabnnya, guru menjelaskan dengan menganalogikan simulasi tersebut dengan wujud atau keberadaan Allah. Misalnya: Allah itu memang gaib atau tidak bisa dilihat wujudnya, namun kita bisa melihat dengan cara merasakan keberadaan-Nya melalui segala ciptaan-Nya. Hal ini sama dengan peristiwa larutnya gula dalam air. Meskipun gula itu sudah tidak bisa dilihat lagi, keberadaan gula tetap bias dirasakan dengan mencicipinya sehingga terasa manis air tersebut.
6.      Setelah siswa-siswi mendengarkan penjelasan guru mengajak untuk memikirkan dan menyebutkan benda-benda yang tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan, misalnya angin, udara, arus listrik, dan sebagainya. Dengan tujuan mengetahui pemahaman siswa terhadap analogi tersebut.
Dengan media percobaan diatas telah melatih perkembangan beberapa kecerdasn anak diantaranya  kecerdasan logis dan spasial berkembang ketika siswa melakukan pengamatan terhadap gula yang dilarutkan dalam air dan ketika mencari contoh benda yang tidak dapat dilihat, tetapi bisa dirasakan. Dengan peningkatan kecerdasan logis dan spasial tersebut diaharapkan siswa memiliki keyakinan yang kuat terhadap keberadaan Allah (sifat wujud).
Daftar Pustaka

Nurhayati, Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka  Pelajar.
Santrock, Jhon W. 2009. Educational Psychology. Jakarta : Salemba Humanika.
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan ; Teori dan Praktik.Jakarta : PT Indeks.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar