APLIKASI TEORI BELAJAR IVAN PETROVICH PAVLOV
(CLASSICAL CONDITIONING )
DALAM PENANAMAN KEYAKINAN ALLAH ITU ESA (SATU) PADA ANAK USIA 5-7 TAHUN
(CLASSICAL CONDITIONING )
DALAM PENANAMAN KEYAKINAN ALLAH ITU ESA (SATU) PADA ANAK USIA 5-7 TAHUN
Teori
Classical Conditioning
Ivan
Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenal dengan teori
pengkondisian asosiatif stimulus-respons. Ia mengemukakan bahwa ia dapat penggunaan
stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku
(respons). Dalam hal ini, eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov menggunakan
anjing sebagai subyek penelitian.
Gambar pertama. Dimana
anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan
mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika
anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau m engeluarkan air
liur.
Gambar ketiga. Sehingga
dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan
bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur
(UCR) akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah
perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar
bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan
respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam
ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi
bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa
diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun
ketika mendengar bunyi bel.
Jika
anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian
mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka
kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur)
akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction atau penghapusan.
Pavlov
mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan
penghapusan sebagai berikut:
- Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan
- Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
- Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur
- Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah
bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi,
yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning
process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan
rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang
berkondisi (Muhammad dan Novan, 2013:154). Dengan kata lain, gerakan-gerakan
refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan. Sehingga
dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks wajar (unconditioned
refleks)-keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat dan refleks
bersyarat atau refleks yang dipelajari (conditioned refleks)-keluar air
liur karena menerima atau bereaksi terhadap suara bunyi tertentu.
Aplikasi Teori Classical Conditioning
dalam Menanamkan Keyakinan Allah Itu Maha Esa pada Anak Usia 5-7 Tahun
Anak usia 5-7 tahun pada umumnya telah mampu
mengembangkan kecakapan sosial dan intelektual. Dimana pada tahapan ini sangat
penting untuk menanamkan kayakainan tentang Allah, bahwa Allah adalah Tuhan
Yang Maha Esa dan Mahatunggal. Penanaman kayakinan tersebut bertujuan untuk
menciptakan sikap mentauhidkan Allah serta meyakini sepenuhnya bahwa tiada
Tuhan selain Allah dan Allah Maha Esa. Dengan adanya sikap ini diharapakan akan
terbentuk jiwa muslim yang konsisten terhadap Allah dan tidak meminta
pertolongan kepada selain Allah.
Proses
penananman sikap tersebut sering kali mengalami kegagalan karena kebanyakan
guru menggunakan metode mengumumkan dalam menguraikan materi Allah itu Maha
Esa. Sehingga, anak cenderung bosan karena materi tersebut tidak mendatangkan
kesan pengalaman yang menyenangkan. Tidak adanya kesan pengalaman belajar
mengakibatkan sulit terbentuknya sikap yakin terhadap sifat Maha Esa Allah.
Oleh karena itu penulis mencoba mengaplikasikan teori classical conditioning
untuk menanamkan sikap keyakinan Allah itu Maha Esa.
Tahapan-tahapan
aplikasi teori classical conditioning dalam penanaman dan pembentukan sikap
keyakinan Allah itu Maha Esa :
1.
Guru bersama murid membaca ayat yang berkaitan dengan sifat
Allah Maha Esa yaitu surat Al Ikhlas ayat 1-4 : “Katakanlah
"Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
2.
Guru menerangkan bahwa Allah itu Maha Esa
dengan menggunakan stimulus agar anak merasa senang dan mendapat kesan
pengalaman belajar. Stimulus yang digunakan disini adalah sebuah lagu gubahan
yang liriknya mengandung sifat Allah Maha Esa. Berikut ini adalah salah satu
contoh lagu gubahan untuk mengenalkan dan menanamkan keayakinan bahwa Allah itu
Maha Esa :
Judul:
Tuhanku Satu
(Lagu
gubahan Balonku Ada Lima)
Tuahanku
hanya satu
Tiada
bersekutu
Dia
tidak berputra
Tidak
pula berbapa
Siapa
bilang tiga. Door!
Itu
musyrik namanya
Orang
seperti dia
Nerakalah
tempatnya
3.
Guru dan murid menyanyikan lagu tersebut secara
berulang dan berkesinambungan selama beberapa pertemuan. Pengulangan lagu
tersebut diharapkan memberikan kesan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Sehingga, tertanam sikap keyakinan pada anak bahwa Allah itu Maha Esa.
4.
Kemudian lagu tersebut diperkuat dengan
menampilkan sikap dan perilaku ibadah hanya kepada Allah di lingkungan keluarga
maupun sekolah.
Kesimpulan
Menanamkan
keyakinan Allah itu Maha Esa pada anak usia 5-7 tahun dapat dilakukan dengan
memberikan stimulus dalam penyampaian
materi tentang Allah itu Maha Esa. Stimulus tersebut berupa lagu yang liriknya
mengandung sifat Allah Maha Esa yang diberikan secara berulang dan berangsur
selama proses pembelajaran. Dengan metode ini diharapkan dapat menciptakan
sikap mentauhidkan Allah serta meyakini sepenuhnya bahwa tiada Tuhan selain
Allah dan Allah Maha Esa. Dengan adanya sikap ini akan terbentuk jiwa muslim
yang konsisten terhadap Allah dan tidak meminta pertolongan kepada selain
Allah.
Daftar
Pustaka
Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan.Jakarta :
Raja Grafika Pustaka
Irham, Muhammad & Novan Ardy Wiyani. 2013.Psikologi
Pendidikan : Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Jogjakarta :
Ar-Ruzz Media.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar