Selasa, 05 November 2013

APLIKASI TEORI BELAJAR IVAN PETROVICH PAVLOV (CLASSICAL CONDITIONING ) DALAM PENANAMAN KEYAKINAN ALLAH ITU ESA (SATU) PADA ANAK USIA 5-7 TAHUN



APLIKASI TEORI BELAJAR IVAN PETROVICH PAVLOV
(CLASSICAL CONDITIONING )
DALAM PENANAMAN KEYAKINAN ALLAH ITU ESA (SATU) PADA ANAK USIA 5-7 TAHUN

Teori Classical Conditioning
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons. Ia mengemukakan bahwa ia dapat penggunaan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam hal ini, eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov menggunakan anjing sebagai subyek penelitian.
Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau m engeluarkan air liur.
Gambar ketiga. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction  atau penghapusan.
Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:
  1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan
  2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
  3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur
  4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.


Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi (Muhammad dan Novan, 2013:154). Dengan kata lain, gerakan-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan. Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks wajar (unconditioned refleks)-keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat dan refleks bersyarat atau refleks yang dipelajari (conditioned refleks)-keluar air liur karena menerima atau bereaksi terhadap suara bunyi tertentu.
Aplikasi Teori Classical Conditioning dalam Menanamkan Keyakinan Allah Itu Maha Esa pada Anak Usia 5-7 Tahun
Anak usia 5-7 tahun pada umumnya telah mampu mengembangkan kecakapan sosial dan intelektual. Dimana pada tahapan ini sangat penting untuk menanamkan kayakainan tentang Allah, bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Mahatunggal. Penanaman kayakinan tersebut bertujuan untuk menciptakan sikap mentauhidkan Allah serta meyakini sepenuhnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Esa. Dengan adanya sikap ini diharapakan akan terbentuk jiwa muslim yang konsisten terhadap Allah dan tidak meminta pertolongan kepada selain Allah.
Proses penananman sikap tersebut sering kali mengalami kegagalan karena kebanyakan guru menggunakan metode mengumumkan dalam menguraikan materi Allah itu Maha Esa. Sehingga, anak cenderung bosan karena materi tersebut tidak mendatangkan kesan pengalaman yang menyenangkan. Tidak adanya kesan pengalaman belajar mengakibatkan sulit terbentuknya sikap yakin terhadap sifat Maha Esa Allah. Oleh karena itu penulis mencoba mengaplikasikan teori classical conditioning untuk menanamkan sikap keyakinan Allah itu Maha Esa.



Tahapan-tahapan aplikasi teori classical conditioning dalam penanaman dan pembentukan sikap keyakinan Allah itu Maha Esa :
1.      Guru bersama murid membaca ayat yang berkaitan dengan sifat Allah Maha Esa yaitu surat Al Ikhlas ayat 1-4 : “Katakanlah "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
2.      Guru menerangkan bahwa Allah itu Maha Esa dengan menggunakan stimulus agar anak merasa senang dan mendapat kesan pengalaman belajar. Stimulus yang digunakan disini adalah sebuah lagu gubahan yang liriknya mengandung sifat Allah Maha Esa. Berikut ini adalah salah satu contoh lagu gubahan untuk mengenalkan dan menanamkan keayakinan bahwa Allah itu Maha Esa :
Judul: Tuhanku Satu
(Lagu gubahan Balonku Ada Lima)

Tuahanku hanya satu
Tiada bersekutu
Dia tidak berputra
Tidak pula berbapa
Siapa bilang tiga. Door!
Itu musyrik namanya
Orang seperti dia
Nerakalah tempatnya

3.      Guru dan murid menyanyikan lagu tersebut secara berulang dan berkesinambungan selama beberapa pertemuan. Pengulangan lagu tersebut diharapkan memberikan kesan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sehingga, tertanam sikap keyakinan pada anak bahwa Allah itu Maha Esa.
4.      Kemudian lagu tersebut diperkuat dengan menampilkan sikap dan perilaku ibadah hanya kepada Allah di lingkungan keluarga maupun sekolah.




Kesimpulan
Menanamkan keyakinan Allah itu Maha Esa pada anak usia 5-7 tahun dapat dilakukan dengan memberikan stimulus dalam  penyampaian materi tentang Allah itu Maha Esa. Stimulus tersebut berupa lagu yang liriknya mengandung sifat Allah Maha Esa yang diberikan secara berulang dan berangsur selama proses pembelajaran. Dengan metode ini diharapkan dapat menciptakan sikap mentauhidkan Allah serta meyakini sepenuhnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Esa. Dengan adanya sikap ini akan terbentuk jiwa muslim yang konsisten terhadap Allah dan tidak meminta pertolongan kepada selain Allah.
Daftar Pustaka
Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan.Jakarta : Raja Grafika Pustaka
Irham, Muhammad & Novan Ardy Wiyani. 2013.Psikologi Pendidikan : Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar