ANDRAGOGI
UNTUK MAHASISWA
Disusun
oleh :
Rio
Estetika
A.
Pendahuluan
Metode dan proses belajar mahasiswa berbeda dengan anak-anak.
Mahasiswa telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yag diperoleh dari jenjang
pendidikan sebelumnya, dari orang tua, teman, masyarakat, dan tidak terkecuali
media massa. Proses belajar mahasiswa tidak lagi menerima informasi dan
pengetahuan tetapi, mahasiswa harus mampu menerima, menganalisis, dan
merealisasikan suatu pengetahuan dalm bentuk aktivitas konkret dalam kehidupan
mahasiswa.
Fakta diatas menunjukkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam proses
belajar menjadi sebuah desakan secara internal pada diri mahasiswa.
Kenyataannnya, sikap kemandirian mahasiswa tidak serta merta berbanding lurus
dengan usia yang dicapainya. Karena itu, perlu adanya uapaya untuk memunculkan
kemandirian belajar agar mahasiswa memiliki keterampilan dalam proses belajar.
Pendekatan andragogi terhadap proses belajar mahasiswa menjadi
alternatif untuk mencapai kemandirian teresebut. Pada tulisan ini penulis
mencoba memaparkan apa dan bagaimana pendekatan pembelajaran andragogi yang
diterpakan pada mahasiswa.
B.
Problematika
Belajar Mahasiswa
Idealnya mahasiswa yang belajar
di perguruan tinggi tidak hanya sekedar menerima materi dari dosen, tetapi harus
mampu menganalisa, mengembangkan, dan mengimplementasikannya kembali melalui
rangkaian pembelajaran dengan ketentuan kredit semester di perguruan tinggi.
Sehingga keberhasilan pembelajaran di perguruan tinggi tergantung dari
mahasiswa itu sendiri. Namun belajar di perguruan tinggi bukan tanpa masalah. Mahasiswa
akan mendapat berbagai hambatan dan problematika belajar, baik dari dalam
dirinya atau dari luar dirinya.
Di zaman ini, banyak pembelajaran di perguruan tinggi lebih
menekankan kepada transformasi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa
dari pada menstransformasikan keterampilan yang dibutuhkan mahasiswa dalam
belajar. Proses pembelajaran seperti ini akan menjadikan mahasiswa tidak
kreatif dan tidak mampu mengkonstruksi pengalaman dan pengetahuan mereka
sendiri, karena mahasiswa dipaksa lebih banyak menguasai bahan atau informasi
yang diberikan dosen (learning based content). Akibatnya, mahasiswa
kesulitan membandingkan dan menerapkan hasil belajar secara teoritis dengan
realitas kehidupan. Fenomena prosese belajar tersebut terjadi karena adanya
pemaknaan pendidikan. Ada yang memaknai pendidikan lebih menekankan pada hasil
( result oriented) dan ada yang menekankan pendidikan lebih pada proses
(process oriented).
Pemaknaan pendidikan yang menekankan pada hasil ( result
oriented) cenderung tidak memandirikan mahasiswa. Pemakanaan pendidikan
yang menekankan pada proses (process oriented), memandang bahwa hasil belajar merupakan konsekuensi
logis dari kepedulian dan perhatian mahasiswa terhadap proses belajar.
Pemaknaan process oriented,menekankan praktik pendidikan
dalam mengupayakan peningkatan keterampilan mahasiswa agar mampu belajar
denagan kesadarannya sendiri dan memilih peran sebagai undividu aktif dalam
proses belajar, sehingga memungkinkan mereka belajar secara mandiri.
Dengan belajar mandiri, mahsiswa memperoleh berbagai keterampilan
dan kecakapan belajar untuk memecahkan masalah utama dalam belajarnya, seperti
: keterampilan menyimak perkuliahan, membaca, menulis, dan menyampaikan
gagasan. Tatap muka perkuliahan dengan dosen harus diartikan sebagai forum
untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa kepada dosen terhadap pengetahuan
mahasiswa.
Perkuliahan yang hanya diisi dengan kegiatan pemberian materi dari
dosen kepada mahasiswa maka, perkuliahan tersebut tidak memberikan nilai tambah
dalam proses belajar. Karena tidak ada pemberdayaan proses belajar, kecuali
pengalihan catatan informasi dari dosen kepada mahasiswa.
Belajar di perguruan tinggi menuntut mahasiswa untuk memiliki
keterampilan belajar secara mandiri. Satuan Kredit Semester (SKS) yang
diberlakukan setiap perguruan tinggi menghendaki agar terciptanya inisiatif
secara mandiri pada mahasiswa tentang beban yang sesuai kapasitasnya. Dengan
SKS mahasiswa ditawarkan program pendidikan yang bervariasi, yang memunkinkan
mereka menentukan dan memilih program studi sesuai dengan bakat, minat, dan
kapasitasnya.
Individu satu dengan yang lainnya memiliki kapasitas yang berbeda.
Dan yang tahu secara pasti kapasitas diri adalah diri yang bersangkutan.
Mahasiswa sebelum memulai perkuliahan harus merencanakan mata kualiah yang akan
diambil dan berapa beban SKS. Demikian juga proses belajar dan penyelesaian
tugas tidak dapat mengaharap penuh dari dosen atau teman yang lebih pandai.
Sikap ketergantungan ini sangat riskan terhadap kegagalan.
Mahsiswa secara internal didesak oleh kebutuhan dirinya untuk
mendiri, dan secara eksternal merekan dituntut oleh sistem belajar dengan
Satuan Kredit Semester ( SKS) untuk dapat bertanggung jawab terhadap
keberhasilan belajar yang ditempuhnya.
C.
Karakteristik Mahasiswa
Usia mahasiswa umumnya berkisar antara 18-25 tahun. Dalam sudut
pandang psikologi usia ini berada pada remaja akhir atau dewasa awal. Dimana
pada tahapan ini mereka tidak mau dianggap remaja yang kekanak-kanakan, tapi
dari segi kepribadian, abik dalam emosi, cara berpikir, dan tbertindak sering
kali menampakkan ketidakdewasaan, seperti mudah terpengaruh dan bergantung pada
orang lain.
Pada umumnya usia dewasa awal suka mengeluh tentang sekolah dan
bersikap kritis terhadap dosen dan cara mengajarnya. Minat pendidikan biasanya
berkaitan dengan minat terhadap pekerjaan. Remaja yang tidak minat dalam
pendidikan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain : (1) remaja yang orang
tuanya memiliki cita-cita tinggi yang tidak realistic dan memaksakan
kehendaknyan kepada anak, (2) remaja yang kurang diterima oleh teman sekelas,
meras tidak mengalami kegembiraan seperti teman-temannya dalam berbagai
kegiatan kurikuler, (3) remaja yang matang lebih awal, sehingga merasa dirinya
tertuntut lebih berprestasi dari rata-rata temannya ( Nurhayati,2011 : 52).
Mahasiswa sebagai remaja yang memasuki masa dewasa awal, menuntut
dirinya untuk mandiri. Usaha untuk mencapai kemandirian secara emosional dari
orang tua dan orang dewasa lainnya merupakan perkembangan yang normal. Namun
kemandirian emosional tidak sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja
ingin mandiri, tetapi tetap dan ingin membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari
diri ketergantungan emosi kepada orang tua dan orang dewasa lain, termasuk
kepada dosen atau pembimbingnya. Hal ini terjadi pada remaja yang status dalm
kelompok sebayanya tidak menyakinkan, atau kurang memiliki hubungan akrab
dengan anggota kelompok ( Hurlock 1980 : 209). Aspek psikososial yang terpenting
dimiliki setiap individu yang menginjak dewasa adalah memperoleh kemandirian
untuk mangambil keputusan dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Karakteristik mahasiswa sebagai remaja tahap akhir atau dewasa awal
memiliki keinginan penuh untuk mandiri dalam mengambil keputusan dan keberanian
mengambil tanggung jawab. Secara emosi meraka tidak mau dianggap anak-anak,
dikendalikan, didekte, tidak terima diasalahakan orang lain atau oleh orang
dewasa lain, meskipun kenyataannya belum mandiri dalam bertindak.
D.
Andragogi Untuk Mahasiswa
Andragogi
adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini
awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa
oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles (24 April 1913 - 27 November 1997).
Teori Knowles tentang andragogi
dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana: Pertama, Orang
dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti (berkaitan dengan konsep
diri dan motivasi untuk belajar). Kedua, pengalaman (termasuk
pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep
pengalaman). Ketiga,Orang dewasa paling berminat pada pokok
bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau
kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar). Keempat, belajar bagi orang dewasa lebih
berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi/).
Dalam andragogi, mahasiswa diposisikan sebagai subjek aktif yang
memiliki kemampuan untuk merencanakan arah, memilih bahan atau materi yang
bermanfaat bagi dirinya, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis
dan menyimpulkannya, serta mengambil manfaat pendidikan. Sedangkan dosen adalah
sebagai fasilitator dan bukan sumber pengetahuan. Sumber pengetahuan adalah
perpustakaan, buku, jurnal, hasil penelitian, artikel, jurnal, dan termasuk
pengalaman dosen. Artinya, dosen memiliki peran mengkonfirmasi pengatahuan
mahasiswa dalam belajar mandiri terhadap objek studi yang bersangkutan.
Pendekatan andragogi diterapkan pada mahasiswa harus terlebih
dahulu membuat asumsi tentang mahsiswa itu sendiri kemuadian menentukan langkah
impliktatif berdasar asusmsi tersebut.
1.
Mahasiswa
mampu mengarahkan dirinya sendiri. Implikasinya ;
a.
Suasana
belajar diciptakan agar pembelajar
merasa diterima, dihargai, didukung oleh lingkungan dengan melakukan
interaksi seimbang antara mahasiswa dengan dosen.
b.
Mahasiswa
haris terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi belajar,
peran dosen hanya sebagai fasilitator.
2.
Mahasiswa
memiliki pengalaman yang dapat didayagunakan dalam proses belajar. Implikasinya
:
a.
Pembelajaran
mata kuliah harus menggunakan teknik partisipatoris untuk member pengalaman
konkret pada mahasiswa.
b.
Membimbing
mahasiswa untuk mengaplikasikan hasil kerjanya.
c.
Membuat
aktivitas yang mendorong mahasiswa melihat pengalaman sendiri dan belajar dari
pengalaman.
3.
Mahasiswa
belajar berdasarkan kebutuhan. Implikasinya :
a.
Penataan
kurikulum harus sesui kebutuhan nyata mahsiswa, bukan atas kebutuhan institusi.
b.
Kesiapan
mahasiswa harus dipertimbangkan.
4.
Orientasi
objek pembelajaran mahasiswa adalah pada masalah. Implikasinya :
a.
Dosen
mengtahui apa yang menjadi ketertarikan mahasiswa kemudian membangun pengalaman
belajar yang relevan dengan ketertariakan.
b.
Tahapan
belajar diatur berdasarkan area persoalan, bukan berdasar pada mata kuliah.
Tujuan
belajar di perguruan tinggi dapat
mengalamai perubahan ke arah yang lebih baik. Karena pada hakikatnya belajar adalah
proses mental untuk mengembangkan potensi individu. Perubahan yang diharapakan
dari proses belajar adalah dalam bentuk keterampilan, penmgetahuan, nilai, dan
sikap (Sudjana,2000: 156).
Dengan memperhatikan karakteristik mahasiswa yang
mulai menuntut diri untuk mandiri, maka gaya belajar independent dengan
pendekatan andragogi sangat sesuai.Pendekatan andragogi diharapkan mampu
menghasilkan output sarjana yang memiliki kompetensi pengetahuan,
keterampilan, kemandirian pada bidang keahliannya.
E.
Kesimpulan
Pendekatan andragogi dalam proses belajar mahasiswa secara garis
besar dapat dilakukan dengan menciptakan suasana belajar agar pembelajar merasa diterima, dihargai, didukung oleh
lingkungan dengan melakukan interaksi seimbang antara mahasiswa dengan dosen, mahasiswa
harus terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi belajar,
serta memberikan ketermapilan pada mahasiswa untuk mendayagunakan pengalaman
dan pengetahuannya dalam proses belajar.
Pendekatan andragogi diharapkan mampu menghasilkan lulusan
perguruan tinggi yang memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan,
kemandirian pada bidang keahliannya.
Daftar Pustaka
Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Sudjana, D. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah
Production.
Nurhayati, Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi/, Diakses 18 Desember 2013.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar