Rabu, 18 Desember 2013

ANDRAGOGI UNTUK MAHASISWA
Disusun oleh :

Rio Estetika   

A.    Pendahuluan

Metode dan proses belajar mahasiswa berbeda dengan anak-anak. Mahasiswa telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yag diperoleh dari jenjang pendidikan sebelumnya, dari orang tua, teman, masyarakat, dan tidak terkecuali media massa. Proses belajar mahasiswa tidak lagi menerima informasi dan pengetahuan tetapi, mahasiswa harus mampu menerima, menganalisis, dan merealisasikan suatu pengetahuan dalm bentuk aktivitas konkret dalam kehidupan mahasiswa.
Fakta diatas menunjukkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam proses belajar menjadi sebuah desakan secara internal pada diri mahasiswa. Kenyataannnya, sikap kemandirian mahasiswa tidak serta merta berbanding lurus dengan usia yang dicapainya. Karena itu, perlu adanya uapaya untuk memunculkan kemandirian belajar agar mahasiswa memiliki keterampilan dalam proses belajar.
Pendekatan andragogi terhadap proses belajar mahasiswa menjadi alternatif untuk mencapai kemandirian teresebut. Pada tulisan ini penulis mencoba memaparkan apa dan bagaimana pendekatan pembelajaran andragogi yang diterpakan pada mahasiswa.

B.     Problematika Belajar Mahasiswa

Idealnya mahasiswa  yang belajar di perguruan tinggi tidak hanya sekedar menerima materi dari dosen, tetapi harus mampu menganalisa, mengembangkan, dan mengimplementasikannya kembali melalui rangkaian pembelajaran dengan ketentuan kredit semester di perguruan tinggi. Sehingga keberhasilan pembelajaran di perguruan tinggi tergantung dari mahasiswa itu sendiri. Namun belajar di perguruan tinggi bukan tanpa masalah. Mahasiswa akan mendapat berbagai hambatan dan problematika belajar, baik dari dalam dirinya atau dari luar dirinya.
Di zaman ini, banyak pembelajaran di perguruan tinggi lebih menekankan kepada transformasi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa dari pada menstransformasikan keterampilan yang dibutuhkan mahasiswa dalam belajar. Proses pembelajaran seperti ini akan menjadikan mahasiswa tidak kreatif dan tidak mampu mengkonstruksi pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, karena mahasiswa dipaksa lebih banyak menguasai bahan atau informasi yang diberikan dosen (learning based content). Akibatnya, mahasiswa kesulitan membandingkan dan menerapkan hasil belajar secara teoritis dengan realitas kehidupan. Fenomena prosese belajar tersebut terjadi karena adanya pemaknaan pendidikan. Ada yang memaknai pendidikan lebih menekankan pada hasil ( result oriented) dan ada yang menekankan pendidikan lebih pada proses (process oriented).
Pemaknaan pendidikan yang menekankan pada hasil ( result oriented) cenderung tidak memandirikan mahasiswa. Pemakanaan pendidikan yang menekankan pada proses (process oriented), memandang  bahwa hasil belajar merupakan konsekuensi logis dari kepedulian dan perhatian mahasiswa terhadap proses belajar.
Pemaknaan process oriented,menekankan praktik pendidikan dalam mengupayakan peningkatan keterampilan mahasiswa agar mampu belajar denagan kesadarannya sendiri dan memilih peran sebagai undividu aktif dalam proses belajar, sehingga memungkinkan mereka belajar secara mandiri.
Dengan belajar mandiri, mahsiswa memperoleh berbagai keterampilan dan kecakapan belajar untuk memecahkan masalah utama dalam belajarnya, seperti : keterampilan menyimak perkuliahan, membaca, menulis, dan menyampaikan gagasan. Tatap muka perkuliahan dengan dosen harus diartikan sebagai forum untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa kepada dosen terhadap pengetahuan mahasiswa.
Perkuliahan yang hanya diisi dengan kegiatan pemberian materi dari dosen kepada mahasiswa maka, perkuliahan tersebut tidak memberikan nilai tambah dalam proses belajar. Karena tidak ada pemberdayaan proses belajar, kecuali pengalihan catatan informasi dari dosen kepada mahasiswa.
Belajar di perguruan tinggi menuntut mahasiswa untuk memiliki keterampilan belajar secara mandiri. Satuan Kredit Semester (SKS) yang diberlakukan setiap perguruan tinggi menghendaki agar terciptanya inisiatif secara mandiri pada mahasiswa tentang beban yang sesuai kapasitasnya. Dengan SKS mahasiswa ditawarkan program pendidikan yang bervariasi, yang memunkinkan mereka menentukan dan memilih program studi sesuai dengan bakat, minat, dan kapasitasnya.
Individu satu dengan yang lainnya memiliki kapasitas yang berbeda. Dan yang tahu secara pasti kapasitas diri adalah diri yang bersangkutan. Mahasiswa sebelum memulai perkuliahan harus merencanakan mata kualiah yang akan diambil dan berapa beban SKS. Demikian juga proses belajar dan penyelesaian tugas tidak dapat mengaharap penuh dari dosen atau teman yang lebih pandai. Sikap ketergantungan ini sangat riskan terhadap kegagalan.
Mahsiswa secara internal didesak oleh kebutuhan dirinya untuk mendiri, dan secara eksternal merekan dituntut oleh sistem belajar dengan Satuan Kredit Semester ( SKS) untuk dapat bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar yang ditempuhnya.

C.    Karakteristik Mahasiswa
Usia mahasiswa umumnya berkisar antara 18-25 tahun. Dalam sudut pandang psikologi usia ini berada pada remaja akhir atau dewasa awal. Dimana pada tahapan ini mereka tidak mau dianggap remaja yang kekanak-kanakan, tapi dari segi kepribadian, abik dalam emosi, cara berpikir, dan tbertindak sering kali menampakkan ketidakdewasaan, seperti mudah terpengaruh dan bergantung pada orang lain.

Pada umumnya usia dewasa awal suka mengeluh tentang sekolah dan bersikap kritis terhadap dosen dan cara mengajarnya. Minat pendidikan biasanya berkaitan dengan minat terhadap pekerjaan. Remaja yang tidak minat dalam pendidikan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain : (1) remaja yang orang tuanya memiliki cita-cita tinggi yang tidak realistic dan memaksakan kehendaknyan kepada anak, (2) remaja yang kurang diterima oleh teman sekelas, meras tidak mengalami kegembiraan seperti teman-temannya dalam berbagai kegiatan kurikuler, (3) remaja yang matang lebih awal, sehingga merasa dirinya tertuntut lebih berprestasi dari rata-rata temannya ( Nurhayati,2011 : 52).
Mahasiswa sebagai remaja yang memasuki masa dewasa awal, menuntut dirinya untuk mandiri. Usaha untuk mencapai kemandirian secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya merupakan perkembangan yang normal. Namun kemandirian emosional tidak sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja ingin mandiri, tetapi tetap dan ingin membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari diri ketergantungan emosi kepada orang tua dan orang dewasa lain, termasuk kepada dosen atau pembimbingnya. Hal ini terjadi pada remaja yang status dalm kelompok sebayanya tidak menyakinkan, atau kurang memiliki hubungan akrab dengan anggota kelompok ( Hurlock 1980 : 209). Aspek psikososial yang terpenting dimiliki setiap individu yang menginjak dewasa adalah memperoleh kemandirian untuk mangambil keputusan dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Karakteristik mahasiswa sebagai remaja tahap akhir atau dewasa awal memiliki keinginan penuh untuk mandiri dalam mengambil keputusan dan keberanian mengambil tanggung jawab. Secara emosi meraka tidak mau dianggap anak-anak, dikendalikan, didekte, tidak terima diasalahakan orang lain atau oleh orang dewasa lain, meskipun kenyataannya belum mandiri dalam bertindak.

D.    Andragogi Untuk Mahasiswa
Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles (24 April 1913 - 27 November 1997).
Teori Knowles tentang andragogi dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana: Pertama, Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti (berkaitan dengan konsep diri dan motivasi untuk belajar). Kedua, pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman). Ketiga,Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar). Keempat, belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi/).
Dalam andragogi, mahasiswa diposisikan sebagai subjek aktif yang memiliki kemampuan untuk merencanakan arah, memilih bahan atau materi yang bermanfaat bagi dirinya, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyimpulkannya, serta mengambil manfaat pendidikan. Sedangkan dosen adalah sebagai fasilitator dan bukan sumber pengetahuan. Sumber pengetahuan adalah perpustakaan, buku, jurnal, hasil penelitian, artikel, jurnal, dan termasuk pengalaman dosen. Artinya, dosen memiliki peran mengkonfirmasi pengatahuan mahasiswa dalam belajar mandiri terhadap objek studi yang bersangkutan.


Pendekatan andragogi diterapkan pada mahasiswa harus terlebih dahulu membuat asumsi tentang mahsiswa itu sendiri kemuadian menentukan langkah impliktatif berdasar asusmsi tersebut.
1.      Mahasiswa mampu mengarahkan dirinya sendiri. Implikasinya ;
a.       Suasana belajar diciptakan agar pembelajar  merasa diterima, dihargai, didukung oleh lingkungan dengan melakukan interaksi seimbang antara mahasiswa dengan dosen.
b.      Mahasiswa haris terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi belajar, peran dosen hanya sebagai fasilitator.
2.      Mahasiswa memiliki pengalaman yang dapat didayagunakan dalam proses belajar. Implikasinya :
a.       Pembelajaran mata kuliah harus menggunakan teknik partisipatoris untuk member pengalaman konkret pada mahasiswa.
b.      Membimbing mahasiswa untuk mengaplikasikan hasil kerjanya.
c.       Membuat aktivitas yang mendorong mahasiswa melihat pengalaman sendiri dan belajar dari pengalaman.
3.      Mahasiswa belajar berdasarkan kebutuhan. Implikasinya :
a.       Penataan kurikulum harus sesui kebutuhan nyata mahsiswa, bukan atas kebutuhan institusi.
b.      Kesiapan mahasiswa harus dipertimbangkan.
4.      Orientasi objek pembelajaran mahasiswa adalah pada masalah. Implikasinya :
a.       Dosen mengtahui apa yang menjadi ketertarikan mahasiswa kemudian membangun pengalaman belajar yang relevan dengan ketertariakan.
b.      Tahapan belajar diatur berdasarkan area persoalan, bukan berdasar pada mata kuliah.


Tujuan belajar  di perguruan tinggi dapat mengalamai perubahan ke arah yang lebih baik. Karena pada hakikatnya belajar adalah proses mental untuk mengembangkan potensi individu. Perubahan yang diharapakan dari proses belajar adalah dalam bentuk keterampilan, penmgetahuan, nilai, dan sikap (Sudjana,2000: 156).
Dengan  memperhatikan karakteristik mahasiswa yang mulai menuntut diri untuk mandiri, maka gaya belajar independent dengan pendekatan andragogi sangat sesuai.Pendekatan andragogi diharapkan mampu menghasilkan output sarjana yang memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan, kemandirian pada bidang keahliannya.

E.     Kesimpulan
Pendekatan andragogi dalam proses belajar mahasiswa secara garis besar dapat dilakukan dengan menciptakan suasana belajar agar pembelajar  merasa diterima, dihargai, didukung oleh lingkungan dengan melakukan interaksi seimbang antara mahasiswa dengan dosen, mahasiswa harus terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi belajar, serta memberikan ketermapilan pada mahasiswa untuk mendayagunakan pengalaman dan pengetahuannya dalam proses belajar.
Pendekatan andragogi diharapkan mampu menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan, kemandirian pada bidang keahliannya.







Daftar Pustaka

Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Sudjana, D. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production.
Nurhayati, Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi/, Diakses 18 Desember 2013.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar